JAKARTA – Komitmen PT Pertamina International Shipping (PIS) untuk meningkatkan keselamatan operasional melalui peremajaan armada kapal menuai sorotan tajam. Center for Budget Analysis (CBA) menilai pernyataan manajemen PIS bertolak belakang dengan realitas di lapangan, di mana ratusan kapal sewa yang dikelola perusahaan pelat merah tersebut ditemukan berusia di atas 20 tahun dan menyebabkan kerugian operasional serta finansial yang signifikan.

Kritik CBA ini muncul setelah Pelaksana Tugas Direktur Utama PIS, Surya Tri Harto, dalam Laporan Tahunan 2024, menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen mengganti kapal-kapal lama dengan unit baru atau kapal bekas yang lebih layak guna menjamin keselamatan pelayaran.

Namun, Direktur CBA, Uchok Sky Khadafi, membantah klaim tersebut. Menurutnya, data pengelolaan armada PIS menunjukkan adanya kontras antara retorika dan praktik.

“Coba lihat fakta pengelolaan kapal sewa oleh PT PIS. Tidak ada perhatian serius terhadap usia kapal dan target effective load factor (ELF) atau tingkat okupansi kapasitas muatan kapal yang tersedia,” ujar Uchok Sky dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).

42 Persen Armada Sewa Sudah Uzur

CBA mengungkapkan bahwa dari total 292 kapal yang dikelola PIS, sebanyak 123 kapal atau sekitar 42 persen merupakan kapal sewaan yang usianya telah melampaui 20 tahun.

Uchok menegaskan bahwa praktik ini bertentangan dengan standar pengadaan. Ia menyebut, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) seringkali secara tegas membatasi usia kapal dalam undangan prakualifikasi tender.

“Faktanya, PIS justru menyewa kapal-kapal yang usianya melampaui 20 tahun. Ini jelas memperlihatkan manajemen risiko yang buruk,” tegas Uchok.

Selain masalah usia, CBA juga menyoroti performa armada sewa yang tidak optimal. Terdapat setidaknya 26 kapal sewa yang tercatat tidak mencapai target ELF. Kondisi ini secara langsung berdampak pada tingginya biaya operasional dibandingkan pendapatan yang dihasilkan.