BOGOR - Masjid bukan lagi sekadar tempat bersujud, tetapi menjelma menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat. Semangat inilah yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Bogor melalui program Jumat Keliling (Jumling). Di Masjid Jami’ Daarunnadwa, Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Jumat (1/8), Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, memimpin langsung kegiatan yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan warga.

Mungkin, bagi sebagian orang, masjid hanyalah bangunan tempat beribadah. Namun, bagi masyarakat Cikeas, masjid adalah tempat pertama mereka berbagi harapan dan keluh kesah. Mewakili Bupati Bogor, Rudy Susmanto, Sekda Ajat menjelaskan bahwa Jumling adalah wujud nyata pelayanan publik yang merangkul kedekatan dan keterbukaan.

“Pemerintah ingin hadir di tengah masyarakat, bukan hanya melalui kantor, tapi juga lewat ruang-ruang ibadah. Karena sering kali masjid adalah tempat pertama warga menyampaikan harapan mereka,” kata Ajat.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Ketua Baznas Kabupaten Bogor, Ketua DMI, perwakilan OPD, camat dan kepala desa se-Kecamatan Sukaraja. Bantuan simbolis untuk Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan bantuan sosial pun diserahkan, menambah kehangatan suasana.

Lebih dari sekadar rutinitas, Bupati Bogor mendorong agar Jumling menjadi momentum pembangunan nilai. Pembangunan bukan hanya tentang jalan atau infrastruktur, tetapi juga tentang membentuk karakter masyarakat yang berakhlak mulia.

“Pembangunan itu bukan cuma soal fisik. Kita harus perhatikan juga aspek spiritual dan sosial warga. Karena itulah masjid dijadikan titik temu antara umat dan pemerintah,” ujar Ajat.

Perhatian khusus diberikan pada peran masjid bagi generasi muda. Pemerintah berharap masjid menjadi ruang aman untuk belajar dan berkembang, menjauhkan mereka dari aktivitas negatif.

“Daripada nongkrong di tempat yang salah, lebih baik generasi muda kita kita ajak tumbuh di masjid. Kita dorong masjid untuk terbuka sebagai ruang edukasi, diskusi, dan kegiatan sosial,” tambah Ajat.

Kabupaten Bogor menggelar Jumling serentak di enam titik setiap pekan. Pejabat utama bergantian hadir, membangun jembatan hati dengan masyarakat. Strategi ini terbukti ampuh mempererat hubungan antarwilayah dan memastikan pembangunan merata.