BOGOR – Kehadiran transportasi daring (ojek online) kian menggeser eksistensi angkutan kota (angkot) di wilayah Bogor. Kondisi ini memaksa para sopir angkot di Terminal Laladon, Kabupaten Bogor, mengubah strategi operasional demi mengejar setoran yang kian sulit didapat.

Pantauan di lokasi pada Selasa (14/4), aktivitas di Terminal Laladon tampak lengang pada siang hari. Sejumlah sopir memilih memarkirkan kendaraannya dan baru akan beroperasi secara intensif saat menjelang malam.

Ade, salah satu sopir angkot jurusan Leuwiliang, mengungkapkan bahwa pergeseran pola transportasi masyarakat sangat terasa sejak ojek online mendominasi. Terminal yang dulunya menjadi titik utama aktivitas naik-turun penumpang, kini mulai ditinggalkan karena masyarakat lebih memilih layanan yang praktis.

“Saya biasanya baru mulai menarik (penumpang) jam 7 malam, saat orang-orang pulang kerja. Kalau siang begini penumpang sangat sedikit, apalagi sekarang banyak Grab,” ujar Ade saat ditemui di Terminal Laladon.

Menurut Ade, keberadaan ojek online tidak hanya mengurangi jumlah penumpang di jalan, tetapi juga mulai menguasai area sekitar terminal. "Kalau malam, mereka banyak mangkal di sini, dari ujung ke ujung. Pagi baru keluar, sudah seperti angkot juga," tambahnya.

Sepinya penumpang pada siang hari membuat para sopir harus menyesuaikan jam operasional. Ade mengaku lebih memilih menarik angkot hingga tengah malam untuk memastikan biaya operasional dan setoran terpenuhi. Jika tetap memaksakan beroperasi di siang hari yang sepi, pendapatan mereka seringkali tidak cukup untuk menutupi biaya bahan bakar.

Meski tekanan persaingan semakin ketat, Ade menyebutkan bahwa pendapatan harian masih cukup untuk kebutuhan dasar. "Setoran per hari Rp70 ribu, alhamdulillah masih terkejar. Untuk uang makan juga masih ada sekitar Rp50 ribuan," jelasnya.

Selain persaingan dengan transportasi daring, kehadiran moda transportasi bus perkotaan juga dinilai turut memengaruhi keberlangsungan angkot, terutama di jalur-jalur kota. Beberapa sopir angkot bahkan memilih untuk beralih profesi, meski tidak selalu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Namun, Ade menilai penerapan moda transportasi massal seperti bus tidak mudah dilakukan di seluruh wilayah. Jalur padat seperti arah Leuwiliang yang kerap mengalami kemacetan parah dianggap masih membutuhkan fleksibilitas angkot.