BOGOR – Tepat pukul 00.00 WIB, Sabtu (16/8/2025), suasana hening menyelimuti Taman Makam Pahlawan (TMP) Dreded, Bogor Selatan. Ratusan peserta berdiri tegak dalam kesunyian, mengikuti Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci yang digelar untuk memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 tingkat Kota Bogor.

Upacara sakral ini dipimpin langsung oleh Danrem 061/Surya Kencana, Brigjen TNI Faisol Izuddin Karimi, S.E., dengan Mayor Chk I Komang Winarta bertindak sebagai komandan upacara. Sekitar 350 peserta hadir dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pejabat pemerintah, pelajar, hingga masyarakat umum, menambah kekhidmatan acara di bawah temaram malam.

Deretan pejabat daerah juga tampak hadir, termasuk Wali Kota Bogor, Kapolresta Bogor Kota, Ketua DPRD, hingga perwakilan TNI AU dan AL. Kehadiran pelajar SMA dari seluruh penjuru Kota Bogor menjadi penanda bahwa generasi muda turut serta menjaga warisan nilai perjuangan bangsa.

Dalam amanatnya, Brigjen Faisol menyampaikan renungan tentang jasa para pahlawan yang bersemayam di TMP Dreded. Tercatat ada 1.105 makam yang terdiri dari 774 anggota TNI, 73 anggota Polri, 18 PNS, 209 pejuang rakyat, serta 31 pahlawan tak dikenal. Angka ini, katanya, menjadi bukti bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan yang penuh pengorbanan.

“Kami menyatakan hormat yang sebesar-besarnya atas keikhlasan dan kesucian pengorbanan para pahlawan dalam pengabdian terhadap perjuangan demi kebahagiaan bangsa dan negara,” ujar Danrem, disambut suasana hening dari para peserta yang larut dalam momen penuh makna.

Brigjen Faisol juga menegaskan bahwa perjuangan para pahlawan adalah estafet yang harus dilanjutkan oleh generasi penerus. Ia mengingatkan, jalan kebaktian yang ditempuh para pahlawan harus menjadi pegangan bangsa untuk terus menjaga kedaulatan dan membangun negeri ke arah yang lebih maju.

Tak lupa, doa dipanjatkan agar arwah para pahlawan diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa dan diberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Doa tersebut menambah suasana haru, mengikat hati seluruh peserta dalam rasa syukur sekaligus tanggung jawab atas kemerdekaan yang telah diraih.

Upacara kemudian ditutup dengan suasana penuh khidmat. Bagi masyarakat dan generasi muda yang hadir, renungan suci ini bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga pengingat bahwa kemerdekaan yang kini dinikmati adalah amanah besar yang harus dijaga dengan kerja nyata dan persatuan bangsa.***